Breaking News

Pagar Dewa Pusat Kerajaan Tulangbawang

Pagar Dewa Pusat Kerajaan Tulangbawang


Data/penulis : Seno

Pada edisi sebelumnya Kerajaan Tulangbawang pernah dibahas dalam majalah ini. Namun, hanya gambaran sekilas saja dan lebih menceritakan keberadaan makam minak Gemol. Kali ini pada rubrik yang sama akan kembali diceritakan mengenai keberadaan Tulangbawang, yang ternyata dari beberapa penuturan posisi istana kerjaan tersebut berada di Pagar Dewa.

Penuturan dari seseorang yang ternyata masih keturunan ke 21 dari Raja Tulangbawang,  Assa’ih Akip, pada sekitar abad XIII masehi,  kerajaan tersebut dipimpin oleh Runjung, dengan gelar Minak Tabu Gayau. Pada masa tersebut, Runjung memiliki tiga anak; Tuan Rio Mangku Bumi, Tuang Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak.

Ketiga putra itu, masing masing diberi warisan. Tuan Rio Mangku Bumi mendapatkan warisan tanah, Tuan Rio Tengah menerima senjata dan Tuan Rio Sanak mendapat warisan berupa emas.  Warisan tersebut merupakan sebuah simbol, yang dapat diartikan pemberian tanah maksudnya sebuah kekuasaan, sedangkan warisan senjata maksudnya sebuah pertahanan dan emas artinya kekayaan. “Semua itu sebuah simbol.  Setlah waris itu mereka terima maka masing-masing bertempat tinggal secara terpisah. Tuan Rio Mangku Bumi tetap berada di Pagar Dewa, Tuan Rio Tengah menempat di Menggala dan Tuan Rio Sanak bertempat tinggal di Panaragan.

Pada massa tersebut, Tuan Rio Tengah, bertugas mengamankan seluruh kerjaaan, dan terakhir saat  terjadi perseteruan dengan Kerjaan Palembang,  dia (Tuan Rio Tengah, RED), bertugas mengamkan di daerah Meresou, hingga akhir hayatnya. Sehingga makam Tuan Rio Tengah berada di tempat tersubut. Meresou merupakan sebuah pertahanan dari arah laut, sedangkan pertahanan darat dari arah Palembang dipusatkan di Panaragan. Pagar Dewa sendiri merupakan  pusat pertahanan terakhir. “kalau Menggala itu merupakan staf kekuasaan kekuatan, tapi mengenai pertahanan semua berada dibawah kepemimpinan Tuan Rio Tengah,” ujarnya.

Penyerangan Ke Palembang

 Dikawal oleh dua Punggawanya (Minak Cekei Dilangek dan Minak Tebesi Rawang),  Tuan Rio Mangku Bumi, berangkat ke Palembang menelusuri Sungai Ogan Kereta Pati. Dari lokasi Sungai Musi, sang raja bertahan. Kemudian Raja memerintahkan salahs eorang Punggawanya bernama Minak Cekai Dilagangek, untuk mengirimkan  sepucuk surat yang berisis sebuah tantangan “Menyerah atau dikalahkan”,  begitu kalimat singkat yang dikirimkan Tuan Rio Mangku Bumi kepada Ratu Palembang.

Tantangan tersebut ternyata mendaptkan sambutan dari Ratu di Palembang. Ratu setempat memerintahkan hulu balangnya memberikan jawaban.  Ratu Palembang melalui kurirnya memberikan jawaban bahwa mereka siap menerima serangan.  “Tuan Rio Mangku Bumi , berkata pada Kurir itu, bahwa  menjelang terbenamnya matahari  akan melakukans erangan,” kata Assai’ih Akip, dengan mimik muka serius, seolah membayangkan sebuah peristiwa peperangan yang terjadai kala itu.

Matahari mulai condong ke Barat dan segera tenggelam, maka peneyerangan Tuan Rio Mangku Bumi segera dilakukan.  Namun, belum sampai diseberang lautan, ternyata ribuan prajurit telah melakukan pagar betis dan menunggu kedatangan Tuan Rio Mangku Bumi. “Dengan gagah berani Tuan Rio Mangku Bumi, melakukan peneyerangan untuk menerobos pasukan yang menghadangnya. Bahkan kedua pengawalnya diminta untuk berpencar. Penyerangan di bagaian tengah dilakukanya sendiri. Karena kedua pengawal pribadinya itu diminta untuk menyerang dibagian timur laut dan barat daya,” kata dia.

Ternyata Raja asal Lampung tersebut sangat kuat hingga membuat para punggawa andalan Keratuan Palembang itu kewalahan.  Dalam kondisi yang mualai terdesak, Panglima Keratuan Palembang, Si Gantar Alam, segera lapor dengan rajanya.  Sanga Raja yang merasa gusar segera memberikan kabar kepada Sultan Banten, bagaimana tekhnik mengalahkan Raja asal Lampung tersebut.

Sultan Banten memberi tahu, tombak milik Raja asal Lampung tersebut merupakan senjata pusaka yang ampuh sehingga harus ditukar  dengan yang palsu. Dengan menggunakan tombak itulah Raja asal Lampung tersebut dapat terbunuh. Akhirnya dengan segala upaya perlawanan tidak lagi dilakukan dengan kekerasan tetapi menggunakan taktik, agar tombak milik Tuan Rio Mangku Bumi dapat diambil dan ditukar dengan yang palsu.

Ternyata siasat yang digunakan para punggawa Palembang tersebut berhasil, saat  Tuan Rio Mangku Bumi, mandi dan menyerahkan Tombak kepada dua pengawalnya.  Hanya dalam hitungan detik ternyata tombak itu  telah tertukar.  “Setelah Tuan Rio selesai memulihkan tenaga dengan menyelam di sungfai itu, beliau sudah merasa akan ada kekalahan. Sehingga meminta kepada kedua pengawalnya  untuk menjauh darinya. “Tuan Rio meminta kepada pengawalnya untuk menjauh, karena sudah ada firasat akan kalah. Dan meminta kepada pengawalnya, jika melihat beliau sudah jatuh, maka diminta kepada kedua pengawalnya untuk pergi ke Banten, untuyk memberi tahukan masalah kekalahan itu kepada Minak Pati Pejurit, yakni anak dari Tuan Rio Mangku Bumi. Ternyata benar setelah melawan dengan semua kekuatan, tiba-tiba tombak pusaka yang asli menusuk tubuh Tuan Rio Mangku Bumi,” kata Assa’ih Akip.

Sorak sorai menyambut kemenangan atas kelahnya Raja asal Lampung itu terlihat ramai dan terdengar riuh di istana Palembang. Kendati kegembiraan tersebut dirasakan semua prajurit, punggawa dan isi istana tetapi tidak demikian bagi sang sultan. Orang nomor satu di kesultanan Palembanb itu tampak berdiam dan murung. Hingga sebuah lontaran pertanyaan disampaikan panglima Si Gentar Alam. Anatara heran dan penuh tanda tanya Si Gentar Alam mulai bertanya kepada Sultan Palembang. “Sultan menjawab pertanyaan panglimanya, mengapa kesediahan itu terlihat. Sultan mengaku was-was tat kala kabar kekalahan Raja asal Lampung tersebut sampai ke anaknya yang ada di Banten. Karena pembalasan pasti akan dilakukan. Jika itu terjadi maka kesultanan Palembang akan tumbang,” ujarnya.

Di akui sang Sultan, bahwa Kerajaan Tulanbawang memang kerajaan yang terlibih dahulu lahir. Kendati kelak kekalahan itu bukan ditimbulkan dari kerjaan Tulangbawang, tetapi pasti akan ditumbangkan oleh kerajaan lain yang lebih besar dan ternama. “Maka dari itu, Sultan berpesan kepada para  panglimna, kelak jika sultan pergi dari istana maka tampuk pimpinan diserahkan sepenuhnya kepada tiga panglima istana tersebut,” kata lelaki setengah baya itu. (Bersambung- Pembalasan Minak Pati Pejurit)
0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami