Breaking News

Amburadul Proyek Dibalik Jabatan “Congerong”


Congerong,” begitu cercah sahabat saat kesal itu melanda dihatinya, spontan bahasa itu keluar. Aku sendiri kurang faham arti dari kata itu, tapi yang bisa kuterjemahkan, bahwa beliau lagi kesal.
Kekesalan yang terkadang datang tiba-tiba atau kekesalan yang terkadang dimainkan perasaan Seperti seloroh seorang kawan, saat mencoba mempostig sebuah proyek embung didesanya, disebuah Medsos. Awalnya postingan itu jelas sekali, tidak banyak yang tahu milik siapa proyek embung yang amburadul tersebut. Bahakan hancur,s ebelum difungsikan.
Ntah posting itu karena apa, mungkin sebuah profesi yang harus dilakukan yang harusnya diejawantahkan di sebuah media, atau karena ingin cepat dilandasi gregte hati melihat kondisi tersebut, hingga dimunculkan dalam sebuah postingan di medsos.
Ah, ternyata akibat sebuah emosi yang mungkin timbul dari empunya proyek, akhirnya orangpun paham punya siapa proyek itu. Itulah sebuah emosi atau bentuk kekesalan, kendati bukan kata Congerong yang keluar dari mulut-mulut mereka, tapi akibat dari semua itu, membuka kedok dibalik ketidak beresan sebuah pekerjaan yang harusnya dikerjakaan secara profesional sebagai bentuk kepedulian untuk dimanfaatkan masayarakat.
“Heeemmm, rupanya panjang cerita mengulas embung,” ujar seoarang kawan, sambil tersenyum melihats ebuah posting lanjutan  di medsos.
Aku hanya tersenyum tanpa berkata, susah bibirkuku ini mau mengurai kalimat, apalagi tentang proyek, proyek yang ada sekarang ini, dengan berbagai kepiawaian mereka, bahkan stampel amburadul kalau boleh aku sematkan kalimat itu, ternyata bukan hanya sebatas di kampung, proyek milik oknum anggota DPRD Way Kanan, jua kuberi stampel itu. “Ah miris, sekali. Jika proyek irigasi hanya dipoles,  akhirnya merugikan warga, jika proyek jembatan gantung yang belum sempat digunakan dah ambruk juga. Dan masih banyak jika yang kadang ingin kutulis,”.
“Risih aku menguraikannya, kawan,” kata seoarang kawan yang duduk manis disebelahku, sambil nyeruput kopi kental kesukaannya. Kulihat nikmat dengan sajian pahit kopi itu.
Seperti tugas menulisku, kadang harus pahit itu pula yang uraikan. Tapi jelas bagiku itu bukan emosi, tapisebuah kritik untuk bisa sama-sama berbenah. Dan tidak pula kata Congerong itu terucap kala semua ingin kuungkapkan.
Tinggal menunggu kedepan apakah ambuardul proyek itu dibalik jabatan. ***
0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami