Breaking News

Jadi Lokasi Selfi, Perkebunan Jeruk Al Ma’aruf Pesawaran Hasilkan Puluhan Juta

Jadi Lokasi Selfi, Perkebunan Jeruk Al Ma’aruf Pesawaran Hasilkan Puluhan Juta

gentamerah.com | Pesawaran- Tanah hibah yang semula diberikan oleh Hi. Ruslan untuk perluasan pembangunan Masjid Al Ma'aruf di Desa Sri Mulyo, Kecamatan Negrikaton, Kabupaten Pesawaran, Lampung, dimanfaatkan oleh pengurus masjid bersama masyarakat untuk perkebunan jeruk jenis BW. Ternyata keberhasilan penanaman kebun jeruk tersebut menjadi viral di dunia medsos, karena acapkali digunakan untuk selfi.

Menurut Suparti, penjaga kebun jeruk mengatakan, awalnya pembangunan masjid Al Ma’aruf menggunakan swadaya masyarakat Dusun Cilutung. Karena keterbatasan dana dan lokasi, mendapatkan hibah tanah seluas 1 hektar dari Ruslan.

"Tadinya  pembangunan masjid menggunakan swadaya masyarakat Dusun Cilutung. Untuk penambahan lokasi dan pembiayaan diberikan hibah tanah sama Pak Haji Ruslan. Nah tanah itu kita tanami jeruk. Ternyata bisa menghasilkan dan hasilnya digunakan untuk kebutuhan masjid," katanya,  saat di temui gentamerah.com, di lokasi kebon jeruk BW, Minggu (01/09/2019).

Menurutnya, diatas tnah tersbeut ditanami jeruk sebanyak 500 pohon, dengan hasil panen pada tahun sebelumnya mencapai empat ton. “Per kilogram jeruk ukuran kecil dijual Rp12500,- kalau ukuran besar Rp15.000/kilo. Jadi total penjualan itu skitar Rp50 jutaan. Uang itu digunakan untuk kepentingan masjid," ujarnya.

Keindahan perkebunan jeruk tersebut, ternyata menarik bagi warga yang melintasi. Bahkan pada Mei 2019, pengunjung yang datang dari berbagai daerah, kendaraanya memenuhi loasi parkir yang disediakan pengelola. “Yang datang itu ada yang dari Bandarlampung, bahkan Bengkulu. Waktu musim jeruk berbuah, kendaraan yang parkir malah sampai ke rumah rumah penduduk sekitar. Ya bisa dikatakan mencapai ratusan pengunnjunglah dalam sehari,” kata dia.

Para pengunjung, kata Suparti, ada yang hanya sekedar berfoto, ada juga yang membeli buah keruk BW. “Kalau sekarang karena buahnya belum musim, jadi ramenya hari sepekan sekali saja. Dari awal pengunjung memang kita gratiskan. Kita hanya ngambil dari pembelian buah neruk saja, karena rata-rata mereka pasti beli. Ada yang sekilo sampai puluhan kilo,” ujarnya.



Penulis : Ali Mubaroq
Editor : Seno


0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami