Breaking News

Momok,Si Pen "jilat" Rasa Super Hero


"Dia tu super Hero, bukan penjilat. Agak lain sih kayaknya, bahkan terlihat jadi momok juga. Walaupun agak clutak," celoteh seorang kawan, di gardu ronda, menjelang redupnya rembulan.
Aku dan tiga sahabat yang lain hanya mendengar sambil manggut-manggut, seraya berfikir kemna arah celoteh mentah kawannini.Aku mau langsung menimpal takut tepelset ucapan, dan menyinggungnya.

Seperti mudahnya tersinggungnya pejabat yang anti kritik. "Woiii ngapa pada bengong, gaul dikit ngapa tak," ujar kawan, sambil menepuk dinding gardu ronda, hingga menimbulkan sedikit suara. Layaknya suara-suara yang mulai bungkam ditelan keangkuhan.

"Takut nanti salah paham, karena terkadang kita ini kawan tapi kadang tak sepaham namun dibuat sepaham, kalau ga gitu ntar dibilang pengkhianat," timpal sahabat, sambil narik sarung menutupi badannya yang terlihat ceking, seceking hati mereka yang harusnya berdiri pada prinsip, tapi karena anu dan anu memutuskan jadi penjulur lidah.

Aku yang sejak awal hanya diam sambil menikmati cuaca malam yang makin dingin, walau hujanpun belum turun, tapi rasa gigil mulai menusuk jiwa. Bak tertusuknya otak mereka yang pandai bermain kata, barganti baju dan Malih rupa.

Aku moncoba meredamkan bahasa kawanku, meski ganti baju ku bilang itu masih dia lekat dengan jabatannya. Perkara apa yang dibuat itu mengambil rasa diwadah yang sama, setidaknya itu sebuah penyamaran yang patut diacungi jempol sebelah.

"Ah kau juga mulai mendatar ya. Katanya kalau mau jadi momok harus berdiri bersama menakutkannya," sergak sahabat yang kukira akan terus diam dengan perdebatan itu.

Nah, ini soal momok bukan hantu, jadi tidak harus gentayangan, cari mangsa. Hanya saja cukup dengan prinsip, mau enak jangan jadi Dorna yang punya lidah sejuta, tapi jadilah Bima yangnkatanya ga bisa bahasa sopan tapi jelas siapa yang dibela.

Yang pasti tentang Si Penjilat, tapi rasa pahlawan, kadang ya momok tapi bagi kawannya sendiri.***
0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami