Breaking News

"Ngawur" Harga Rokok Rp100 Ribu, Lah Harga Karet, Kopi Ndlesep

Lentera hati

"Mensos usulkan harga rokok perbungkus Rp100 ribu, mudah ya ngatur harga rokok.  Ngapa ga ngatur aja harga pertanian, karet, kopi dan lada, Satu kilo Rp70 ribu. Emangnya kalau rokok harga tinggi perokoknya berhenti semua. Ngawur," celoteh kawan terlihat kesal, sambil menghempaskan sebungkus rokok di meja, tempat kami ngobrol.

Kan katanya biar anak kecil ga pada ngerokok, melindungi mereka," timpal seorang sahabat, seraya melorot sebatang rokok dari bungkusnya milik kawan.

Aku masih diam sambil menikmati secangkir kopi pahit buatan yu Nem, pemilik warung yang mulai resah harga gas terus naik, dan harga gorengan masih saja seribu dapat tiga. Anak yu Nem yang masih usia belasan hanya bisa bengong nyimak.obrolan kami masalah rokok, dan nyeletuk katanya harga rokok murah aja seorang kawannya sanggup maling karena pengen beli rokok, apalagi mahal.

Celoteh anak yu Nem mengagetkanku, tentang remaja yang maling demi rokok. Apakah jaminan ketiak harga rokok melambung tinggi akan menjauhkan remaja dari rokok, aku kira semua tergantung didikan dirumah dan juga lingkungan. Kalau harga komoditi milik petani yang melambung, akan mensejahterakan rakyat.

Ntah, sudah dipikir panjang atau sekedar statement dari pada ga ngomong tu pak Mensos. Siapa yang banyak untung dibalik naikanya harga rokok ini, wah jelas cukong-cukong pemilik pabrik rokok, apalagi alasan lain tembakau banyak impor, petani tembakau suruh ganti tanaman, ganti tanaman apa ya pak, karet murah, kopi ancur, lada hawer-hawer harganya.

"Pak menteri itu dulu dari keluarga kaya kayaknya, jadi ga pernah merasakan pahitnya jadi petani yang selalu jadi obyek politik dan injakan harga," ujar kawan, yang terlihat menikmati hisapan rokok lintingan dengan bau kemenyan yang menyengat hidung.

Seperti menyengatnya harga pertanian hingga menusuk jantung petani, walau menjerit tak satupun yang peduli. Miris, ketika para punggawa hanya bisa berstatement tapi tidak dijajaki dulu akibat panjangnya. Ah, mumpung jadi pejabat, asal gak terus menjadi penjilat, biarlah. ***

0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami