Breaking News

4Tahun Genta Merah, Ada Cerita Gorengan Mengguncang Perut

 

Genta Merah

Empat tahun perjalanan gentamerah.com, banyak yang sudah disuguhkan..ribuan rangkaian kalimat mencurah, kadan merah, kadang biru dan tak luput pula kuning. Ini hanya sebagai karya, bukan sebuah ungkapan tapi didasari sebuah temuan dan realita.

Tepat tanggal 26 Agustus 2020 ini, berulang tahun, tentunya masih banyak sajian keinginan dari kami. Bukan hanya mereka yang kami juga ingin suguhan yang bermakna. Karena saat merintis itu tujuan kami. Selain aku, tentu saat merangkak itu Ada Yoyon Muchtar, ada Baihaki. Kami mencoba membuka mata mereka, ya mereka yang ingin mengetahui sebuah kabar tentang pengetahuan.

“Hari ini ga usah makan nasi, duit lagi ga ada. Kita makan gorengan aja,” celoteh Baihaki seraya turun dari mobil Luxio milik Yoyon. 

Tak butuh waktu lama, Plastik hitam segera ditenteng masuk mobil. Yoyon segera marah bungkusan plastik itu yang ternyata isi bakwan dan tempe goreng. “Alangkah banyaknya mang, barapo kau beli,” tanya Yoyon.

“Tiga puluh ribu,” jawab Baihaki singkat, sambil tertawa.

Rasa lapar yang terus menggerogoti perut kami, mengakibatkan mulut tak segera berhenti mengunyah puluhan gorengan itu. Tak terfikir jika akan jadi sebuah penyakit perut.

Itu perjalanan kami, mengawali membuat sebuah media cetak melengkapi media online Genta Merah. Saat malam tiba, sambil.menunggu cetak koran, mulailah terasa perut kami bermasalah..bergantian kami masuk kamar mandi.karena perut mules terus menerus. “Kau ini nak ngeracun Ki,” kata Yoyon.

Gorengan oh gorengan, tapi tak terganjal gorengan juga tetap bermasalah. Karena tak ada untuk beli makan nasi. 

Hingga pagi pun kami cukup makan mie instan, murah meriah.

Ternyata itu sudah empat tahun berlalu. Meski.kini masih belum.dikata berhasil, paling tidak Genta Merah walah banyak melewati berbagai perjalanan dan mereka sudah paham dengan sebuah tulisan suguhan kami.

Semoga empat tahun usianya ini akan terus mencapai puncak yang tak menukik kembali. Kami.akan selalu ada dan terus berkarya. Meski tak mudah tapi inilah kami yang mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan dalam membangun perusahaan kecil ini. 

Maaf adinda Baihaki, meski kamu telah lelah bersama kami dan memilih berjalan tak berdampingan dengan perintis Genta Merah, tapi ini cerita tak kan pernah hilang. Terimakasih telah menemaniku mengawali media ini.

Empat tahun, jayalah Genta Merah kan jadi bacaan mendidik yang mengedepankan realita.  Ayoo penerus crew Genta Merah, kita bangun dan bangkitkan terus media ini.**


0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami