Breaking News

DPRD Lampura berjanji Kuak Semua Dugaan Penyimpangan RSUD Ryacudu

 

DPRD Lampura berjanji Kuak Semua Dugaan  Penyimpangan RSUD Ryacudu

Gentamerah.com || Lampung Utara - Anggota komisi IV fraksi Demokrat DPRD Lampung Utara, berjanji akan menguak semua dugaan penyelewengan anggaran yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ryacudu yang saat ini dinilai carut marut dan enam bulan jasa pelayanan (Jaspel) karyawan serta sopir ambulance tidak dibayar.

Wansori, anggota DPRD Komisi IV, heran karena rumah sakit setempat sudah berstatus BLUD namun masih banyak persoalan . 

"Bu direktur, kami ucapkan selamat kepada dr. Sri berserta jajaran yang baru dilantik, kami berharap ditangan bu direktur ini, sesuai dengan undang-undang rumah sakit nomor 4 tahun 2009, bahwa rumah sakit itu harus menjadi badan. Dan artinya ini adalah perpanjangan tangan pemerintah, pelayanan rumah sakit itu adalah icon  kabupaten Lampung Utara,"kata Wansori, saat hearing bersama pimpinan rumah sakit yang baru, Selasa (17/03/2021).

Baca juga :  Komisi IV Minta Direktur Baru RS Ryacudu Lapor Dugaan Penyimpangan ke Penegak Hukum


Menurutnya sudah berulang kali diingatkan kepada direktur lama (Syah Indra) agar memberikan pelayanan yang baik dan pengelolaan yang sesuai, agar tidak mengecewakan masyarakat. 

"Karna setiap pergantian masa jabatan itu, orang yang menggantikan  harus menerima serah terima anggaran, karena ini bukan rumah sakit pribadi, tapi punya pemerintah . Maka harus jelas pertanggungjawabannya. Coba ibu tanyakan dulu sama direktur lama seperti apa anggaran yang sudah ada itu,” ujar dia, dihadapan direktur RSUD Ryacudu, Sri Haryati.

Berkaitan sumber pendapatan dari rumah sakit itu, ungkap Wansori, sudah sangat jelas karena sudah BLUD.

"BLUD itukan sudah jelas,   undang-undang, PP dan aturan Kemenkesnya sudah jelas. Dia yang mengelola, lah kalau kami ingin bertanya secara reel dan secara rinci tentang pengelolaanya rumah sakit itu,  tentunya sudah tepat dong, karena kami ini mitra. Maka inilah gunanya hearing ini, kami ingin dengar semua. Tapi kenapa yang ada malah hutang milyaran, selama ini pengelolaannya seperti apa,” kata dia.

Menurutnya, selama ini persoalannya selalu bergejolak, dannjauh dari harapan bahwa RSUD Ryacudu sebahai icon.

"Kalau berbicara indikasi kebocoran,  nanti ada temen-teman komisi IV yang lain yang akan menjabarkannya, kita meminta kepada pimpinan  bisa  bedah lagi tentang rumah sakit ini,"Kata dia

Dijelaskannya, kebocoran yang ada dirumah sakit itu, Wansori menjabarkan, dirinya pernah menyamar sebagai masyarakat awam dan berobat di tempat tersebut. “Saya sempat ngobrol dengan beberapa pegawai bahkan keluarga pasien, banyak juga yang pasien dari rumah sakit atau klinik lain ke RSUD Ryacudu, untuk uji lab (Laboratorium), karena ditempat mereka beroba tidak ada fasilitas itu. Nah itu kan bayar. Dan itu ada indikasi uangnya tidak masuk ke kasir, lah kalau seharinya itu ada 20 orang yang Lab,  dikalikan Rp50 ribu saja, sudah berapa ada indikasi kebocorannya, “ kata Wansori.

 Dugaan bobroknya rumah sakit Ryacudu , ujar Wansori juga berkaitan dengan obat-obatan yang sering tidak tersedia. Bahkan anyak pasien pengguna BPJS , saat pulang tidak diberikan obat, tetapi dimasukan dalam diagnosa dokter. 

"Ini sering loh. Saya tidak pernah melihat perawat ataupun siapa itu yang sedia ada obat, tapi obat itu tidak diberikan, itu ada indikasi dibawa pulang oleh oknum.Saya bukan menuduh, bisa jadi perawat  atau   bisa jadi bidan buka praktek dirumah itu bisa saja terjadi peluang itu kebocoran,"ungkap dia.

Harapannya, direktur yang baru menjabat  dapat bekerjasama dengan  semua instansi yang ada, termasuk aparat penegak hukum (APH) .


Laporan : (Gian Paqih

Editor : Seno


0 Dilihat

Tidak ada komentar

Hubungi Kami