Headline

“Pemilihan BPK/D?” Pemilihnya Sudah Diarahkan, Demokrasi Ecek-ecek Ala Covid

 

SENO

“Yang mau milih dah dipilihin, dibanyakin yang kira-kira saudara atau pemilih yang mau milih calon yang diinginkan penguasa kampung. Inilah keuntungan demokrasi dimasa pandemi covid19. Jadi jangan harap semua bisa milih,” celoteh seorang kawan disebuah warung bakso sekitaran Banjit.

Aku dan dua sahabatku mencoba memahami arah pembicaraan yang katanya demokrasi covid itu, sulit memang kalau bukan pemerhati politik untuk paham politik. Apalagi masyarakat awam  yang tahunya ada duit atau saudara dekat ya itulah pilihan.

“Wakilnya warga tingkat kampung atau desa atau pekon atau apalah Namanya di daerah masing-masing, aku ga paham. Kalau ditempatku Namanya BPK. Ini seru bagi yang seru seruan, tapi ini menjijikan bagi yang mengerti, tangan besi raja kampung dan desa itu sulit untuk dirubah,” ujar kawan itu, sambil meraih bakwan goreng dan dimasukan ke mangkuk baksonya yang sudah terlihat memerah kebanyakan sambal dan saos.

Mulutnya yang penuh dengan makanan berasa pedas pun ada, terus ngoceh tak henti, mencoba menjabarakan arahnya. Seperti para penguasa yang terus mengarahkan kehendaknya untuk diikuti. Tak peduli aturan tak peduli aspirasi, aspirasi yang dikebiri.

“Lah, dari mana you tahu kalau pemilihnya itu Sudah terkondisikan. Setahuku para kepala dusun yang memilih pemilih itu. inikan covid, jadi jangan rame-rame, makanya dipilihin aja,” timpal sabahabatku yang dari tadi diam menikmati secangkir kopi pahitnya.

Seperti pahitnya calon-calon yang hanya coba-coba tak lakukan lobi-lobi penguasa kampung. Ngambang harapannya, apalagi BPK saat ini tak seperti saat dulu awal dibentuk aturan adanya BPK atau BPD, ga ada isentif, yang ada pengabdian. Makanya sekarang berebut, pencalonan kepala dusunpun sanggup menghaburkan uang, biar terpilih.

“Demokrasi pendemi covid19, demokrasi icak-icak. Kalau mau terpilih ya lobi-lobi kakam, nanti kakam arahkan kadusnya, siapa yang berhak memilih. Cuma ada tujuh orang yang akan duduk di kursi wakil rakyat kampung itu, ga usah berharap banyak ya Lur,” celah sahabat yang duduk tepat disebalahku, rokoknya yang tinggal sedikit terhisap, penuh dengan asap mengepul, melayang keudara dan hilang diantara celah-celah jendela, kayak hilangnya janji manis para penguasa dan pejabat.

Katanya malah di sebuah kampung ada yang gak pakai pilih pilihan lagi tu BPK, kan yang sedang berkuasa disitu berani nepuk dada, jadi cukup apa kata kakam aja, yang lain minggir dulu, tak ada calon-calonan, semua sudah diatur, beres pokoknya.

“Sudahlah biarkan mereka menikmati kekuasaanya, dulu waktu dia nyalon kan ada Tim sukses, ada kerabat dekat, ada penjilat, nah orang-orang inilah yang harus dikondisikan dulu. Bukan hanya masalah pemilihan BPK, sampai bantuan pun sedemikian rupa, you bukan termasuk dalam yang kusebutkan tadi, ya minggir dulu, ini demokrasi covid,” kata kawanku, dengan nada agak kesal, apalagi hidungnya mulai meler akibat kepedesan.

Melihat suasana yang mulai oleng-oleng, aku pamit keluar duluan, mencari udara segar disekitaran kemunafikan para penguasa. “Selamat berjuang calon-calon BPK atau BPD, semoga Amanah ya,” ***


#BPK

#BPD


 

close