Headline

LAKSI Apresiasi Keberhasilan Densus 88 Tangkap Kelompok Terorisme di Bima

 

LAKSI Apresiasi Keberhasilan Densus 88 Tangkap Kelompok Terorisme di Bima

RED

Gentamerah.com || Jakarta – Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI) mengapresiasi Keberhasilan Densus 88 menangkap  tiga tersangka tindak pidana terorisme di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ketiganya merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan dua dari tiga tersangka yang ditangkap tersebut merupakan mantan narapidana terorisme (napiter), Minggu (19/6/2022)

Kordinator LAKSI, Azmi Hidzaqi mengatakan, bahwa JAD merupakan salah satu dari tujuh kelompok terorisme yang diawasi pemerintah. Atas keberhasilan Densus 88 tersebut, masyarakat  patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran kepolisian Republik Indonesia.

“Peranan densus 88 telah berulang kali berhasil  menggagalkan rencana aksi terorisme yang berpotensi membahayakan negara. Densus 88 Polri selalu tampil digarda depan dalam melakukan pengawasan dan penindakan terhadap kelompok terorisme, sehingga ancaman terhadap negara kesatuan republik Indonesia dari gerakan kelompok terorisme dan radikalisme dapat diantisipasi,” kata Azmi.

Menurutnya, keberhasilan kinerja itu tidak luput dari kemampuan densus 88 yang semakin profesional dalam bidang terorisme, sepanjang tahun 2020, Densus 88 Antiteror Polri telah berhasil menangkap sebanyak 118 orang tersangka tindak pidana terorisme dari kelompok ini.

Di tahun 2021 ada delapan  orang yang ditangkap dan  menurut informasi,  kelompok militan tersebut dilaporkan memiliki keterkaitan dengan peristiwa pengeboman di Surabaya (Jawa Timur) tahun 2018 dan pengeboman di Gereja Makassar (Sulawesi Selatan) tahun 2021.

“Kami juga mengajak masyarakat untuk saling bekerja sama dalam mendukung program BNPT dan Densus 88, agar dapat menumpas terorisme secara masif hingga akar. Himbauan dan sosialisasi dari BNPT dan Densus 88 harus terus dilakukan, agar masyarakat tetap waspada dengan berbagai upaya pencucian otak melalui media sosial, supaya tidak terpengaruh dengan paham radikal,” katanya. Rill

close